Q&A BY BHANTE THITASADDHO ON YOUTUBE VJDJ 11-10-22
Ini merupakan lanjutan dari 16-11-25, ini meminamilisir agar tidak terlalu bergeser sekali bukan ritual kematian, namun bagi beberapa sarjana. Bagi mereka yang meneliti buddhisme humanistik ini sangat ambigu, memang ada membahas dunia lain tapi utamanya sila samadhi panna, dilakukan dalam masa masih hidup kalau sudah terlahir dialam lain adanya pengkondisian tapi tujuan praktik, bukan untuk yang disana tapi untuk praktik diri sendiri semua praktik buddhis, bisa masuk dalam buddhisme humanistik istilah buddhisme humanistik dianggap ambigu, tidak usah digunakan buddhisme = humanisme itu adalah hal yang sama tapi sudut pandang lain, itu menentang buddhisme bukan humanisme.
Humanisme dalam masyarakat fokusnya, utamanya diri sendiri bagi pelindung diri sendiri mengenai masyarakat baik, itu tercipta masing masing individu hal yang baik beberapa menganggap ini perkembangan terbaru, apakah itu sama / berbeda. Akan bisa jelas sekali apakah ini sesuai / menumpang nama buddhisme saja, sebenarnya ini pandangan berbeda bagaimana humanistik buddhisme muncul, dalam dhammacakapavattana sutta praktik awal buddhisme, adalah praktik praktik yang nyata.
Bisa dipraktikan saat ini, bisa dikenyam saat ini mencapai kesucian itu bukan menunggu meninggal, itu jelas sekali praktik nyata. Sehingga bisa bebas dari dukkha dalam pustaka suci tidak perlu menunggu, setelah meninggal mereka sudah mencapai tingkat tingkat kesucian memang ada alam kehidupan, alam dewa brahma neraka peta tapi tidak mendominasi bisa dimengerti juga, itu kondisi psikologisnya secara dalam serakah itu bukan sifat manusia seolah olah lahir dialam lain, kita sering kembangkan cinta kasih itu seperti brahma itu penjelasan alam kehidupan, itu dalam pustaka pengulas namun dalam beberapa tradisi buddhis dunia setelah kematian, itu lebih menarik karena sesuatu yang sulit untuk dilihat lebih menarik, bagi mereka yang kurang begitu kritis.
Kurang begitu mampu melihat hal mendalam tapi mendasar, ajaib ajaib mistik itu menarik digunakan dalam Sang Buddha, khususnya diTiongkok abad ke 19 itu menjadi dominan ada beberapa ritual, yang tidak ditemukan teks teks awal. Itu menjadi lebih dikenal buddhisme praktik praktik, yang misalkan memuja dewa / praktik sembahyang pada ini / itu Sang Buddha menganjurkan, untuk melakukan berdoa pada leluhur tapi hal ha seperti dana sila itu praktik dasar, yang dijelaskan dana pengembangan sifat kedermawanan menjadi bergeser untuk hal hal lainnya.
Karena wacana wacana alam lain, itu lebih digemari ada pergeseran fungsi vihara fungsi komunitas biarawan, itu menjadi bergeser. Awalnya pelajari buddha wacana tapi menjadi sarana praktik ritual, itu menjadi sarana profit itu menjadi keuntungan tertentu dalam kondisi tertentu dia tidak tahu lagi, itu menjadi praktik yang lebih mudah tidak perlu jaga sila meditasi cukup berdana, bahkan tiada pandangan benar membaca sutta tertentu itu hal yang baik baca sutta, mendengarkan sutta itu hal yang baik itu hanya sekedar membaca itu bahaya kalau hanya profit itu menjadi kemunduran, awalnya Sang Buddha mengajarkan dhamma untuk fasilitasi mereka, yang memang praktik secara penuh karena para Bhikkhu mendapatkan dana makanan, itu bisa mencapai kesucian tujuan mulia.
Tujuan yang mengarah kepada praktik / hasil yang tertinggi, tapi kalau dipersempit praktik ritual ritual, khususnya kematian saja. Walaupun itu praktik dhamma itu salah satu praktik yang bisa dilakukan, kemasannya menjadi dominan malah hal hal esensial sudah mulai hilang jadi ritual ritual saja, awal abad ke 19 itu mengubah itu menjadi fokusnya beragam awalnya ada seorang bhikkhu, memperkenalkan konsep buddhisme untuk kehidupan manusia tapi belakangan, itu mengubahnya buddhisme untuk dunia manusia.
Komentar
Posting Komentar