REVIEW BY KO SANDI TANU WIJAYA 9-10-22

Kita diberikan mangga harum manis, kita lihat sangat baik tapi kita sia siakan jadi itu tiada manfaat, dalam lamrim ini kita lebih perhatikan diri kita dulu. Dengan memiliki 8 kebebasan & 10 keberuntungan, meditasi mendengakan dhamma masih ada komunitas kita diingatkan sebagai manusia, kalau tidak disadari kita sebagai makhluk berharga untuk belajar praktik kita, itu bawaan pabriknya tidak ingat.

            Bagus tertimpa musibah, agar ingat buddha ingat guru ingat dhamma ini sebuah hal sederhana lihatlah diri kita adalah manusia, memiliki potensi yang besar. Untuk dimanfaatkan coba diingat lagi, kemuliaan kelahiran sebagai manusia dari sementara hingga tertinggi kita dengan Pangeran Siddharta itu sama manusia, kita dengan Pangeran Siddharta itu sama manusia kita sama dengan maha suci, Y.M Dalai Lama XIV itu sama tapi beliau menjadi contoh untuk belajar merenung meditasi & praktik, dengan segala kemampuan yang kita gunakan apapun bisa dicapai dengan tubuh manusia, tapi waktunya terbatas tapi jika sudah lepas sangat sangat sulit & hampir mustahil, kelahiran manusia yang berharga saat ini.

            Semenderita apapun tapi ini kelahirna yang paling sesuai, masih bisa beljar praktik meditasi kondisi pandemi, ini kita masih bisa belajar dhamma. Melalui teknologi anggap kita mati lalu jadi manusia, apakah menjamin kita bisa dapat lagi variabel banyak mungkin ada akses internet tapi apa kita bisa dapat teknologi mendukung, meditasi ini sayang sekali kalau tidak dapat ini sangat sulit.

            Zaman kemerosotan yang semakin merosot, jadi bangkitkan rasa saya mau saya sadar sekali punya guru, punya komunitas akan sangat sayang sekali. Kita lewatkan waktu tidak banyak kita pasti mati, tapi daripada habiskan waktu dengan bersedih meratapi nasib lebih baik kita bangkitkan rasa saya benar benar mau bebas dari samsara.

            Saya ingin manfaatkan waktu, untuk diingatkan kembali pada diri masing masing menganggap guru sebagai sahabat, yang dituakan saja. Tapi perlu kita angap guru yang mengajar itu kesempatan yang sangat berharga, setiap hari mengerjakan pr selalu ingat adanya guru apakah orang yang dituakan / dihormati, kalau guru lebih mud aitu lebih menantang tapi kita ingat, ada seorang guru walau memiliki tubuh manusia belum tentu semuanya punya guru, ketemu adanaya guru jadi asal lewat saja itu sangat bisa kita seperti itu apakah ingat ada guru setiap saat / hanya saat gajian, karena iuran / apa saat puja ingat guru saat puja itu bagus, tapi jika sudah ngomel tidak ingat ajaran itu jadi tidak pas.

            Sangat pasti kita ingat, ada guru karena sudah diberitahu dari awal itu dijelaskan sehingga benar benar tahu, itu otentik kalau tidak kita ketahui. Itu gambling tapi kalau lamrim itu sudah jelas semua, selain menghilangkan keraguan ini membuahkan karma tidak sedikit berarti harus memanfaatkan sebaik baiknya, bagaimana Tripitaka yang sudah sepenuh lemari hingga dapat diringkas jadi 3 buku saja.

            Ini ibarat sebuah novel, ada 2 pilihan secara garis besar hidup ini pilihan mau ikut ujian / tidak kembali pada pilihan, itu bebas tapi ingat ada konsekuensi. Pasti ada ntah mulai mengurangi waktu baca komik / nonton drakor, karena tradisi yang belajar punya guru ketemu ajaran ada komunitas, memiliki hal yang sangat berharga kita bisa capai apapun kita maunya apa mau bahagia dikehidupan mendatang.

            Mau bebas dari samsara, mau jadi buddha itu ada satu metode khususnya membebaskan semua makhluk dari samsara, anggaplah kita sudah S3. Mau buka toko jadi dosen itu tiada masalah, kita mau menentukan dalam lamrim ada 3 mau bebas dari samsara mau bahagia mau sebesar apa, sejauh apa kita bisa dapat kehidupan yang bahagia dimana kita lahir tua sakit mati, kalau disamsara terus itu buat tidak bahagia apa kita keluar / mengubah samsara jadi bahagia, kalau saya bebas sendirian lalu orang tua teman saya gimana maka harus jadi buddha, karena itu buddha yang bisa ketika menentukan sebuah tujuan bebas dari samsara itu kita harus lewati semua, kita harus menjadi buddha.

            Bagaimana cara kit menjelaskan, masing masing semua konsekuensi guru tahu apa yang kita butuhkan, apa yang kita mau selepas ini. Apapun kita mau tapi ingat ada sakit tua mati bahkan kematian itu, tidak menunggu tua maka kematian datang duluan mati itu pasti waktu tidak pasti, tiada apapun yang berguna selain dhamma jika menghadapi kematian penyesalan itu menyesal sebuah kerugian.

            Ternyata waktu saya habis, belum ngapa ngapain topik ini jadi krusial saya ada potensi luar biasa, tapi api ini mudah redup karena kita tiada batasan waktu tiada kematian kita mau meditasi belajar, tapi sudah masuk waktu makan siang. Nanti dulu kita berapi api tapi mudah redup, karena tiada rasa mendesak tapi ingat kematian.

            Waktunya tidak banyak jadi mendesak belajar dhamma, itu penting punya waktu yang luar biasa tapi apakah mendesak, ini sangat penting dibahas. Kematian kelahiran manusia itu lepas selanjutnya kita tidak tahu, alam tinggi / alam rendah oh ya saya sangat mungkin kalau sudah lahir dialam tinggi, tidak perlu khawatir amat walaupun seumur hidup kita berbuat hal bajik apakah kita akan takut hadpi kematian, saya percaya iri kalau alam tinggi tidak perlu khawatir ada kemungkinan besar lahir dialam rendah, coba lihat dalam diri masing masing umur 0 sampai sekarang, banyakan bajik / buruk / seimbang kalau saya pasti jatuh ke alam rendah apakah takut.

            Kalau tidak jelaskan, oh ya sudah kita lihat ke dalam diri sendiri kita lihat saja sebelum & sudah dipelajari, 3 alam rndah kita takut tidak pada kematian. Suhu tekankan kematian bukan menakut nakuti, muncul takut itu bagus tapi kita persiapkan diri jangan sampai lupa waktu, kita diranjang kematian sampai lupa namanya dhamma jadi tiada persiapan kalau itu dibilang, kematian pasti waktunya tidak pasti sudah siap siap dulu.

Komentar