KEMATIAN BY KO SANDI TANU WIJAYA 23-10-22 TIBETAN PUJA
Ketika meninggal kita lanjut lagi, kalau ajaran lain hilang lenyap tidak lanjut masuk neraka / surga, kalau pandangan seperti itu. Kita tidak takut dalam kematian setelah saya meninggal saya akan hilang, tiada konsekuensi tapi sayangnya dalam Buddhist kita masih bisa lahir lagi, baik jadi dewa manusia dll sayangnya kita berpandangan akan lanjut lagi kalau melakukan tindakan tidak baik, perjalanan panjang saya nanti gimana kabarnya saya tidak ada bekal dong, jadi apakah penting membahas kematian? Bagi umat lain memang tidak penting tapi dalam buddhism, itu perlu dibahas karena belum tentu kehidupan berikutnya kita bisa mengumpulkan bekal, lalu kalau lahir dialam neraka / hantu kelaparan tidak mungkin cari bekal.
Kita perlu persiapan, kita perlu takut ya kalau belum ada persiapan kalau sudah ada persiapan dengan kumpulan kebajikan, mereka tidak perlu takut. Bagi beliau beliau hanya melanjutkan perjalanan lagi, untuk mengumpulkan paramita hidup ini hanya transit saja berhenti diterminal, sama dengan hal kehidupan ini bukan cuman menakut nakuti penderitaan yang kita alami juga sama, apakah semua makhluk tahu penderitaan hanya tahu tapi belum paham yang dimana, kita tahu akar penderitaan disebabkan oleh apa bagaimana cara mengatasi jadi 4 kebenaran ariya, itu sangat jelas dibahas dalam jalan utama itu perlu penting dibahas.
Apakah sangat mendesak, ya sangat mendesak semua menderita bisa dirasakan kok tapi apa tahu sebab, akar penderitaan tidak semua makhluk tahu. Untungnya kita sudah diberitahu akar penderitaan kita, kondisi tiada penderitaan itu menjadi Buddha apakah tiada karma buruk yang berbuah, tetap ada yang berbuah saat riwayat hidup Buddha Gautama sakit perut kerancunan makanan, kakinya terluka tapi karma buruk yang dibatin berbuah itu tiada rasa lagi dalam batin, perasaan itu ada 3 menyenangkan netral tidak menyenangkan.
Kondisi yang mau kita capai seperti itu, ada jalan mulia beruas 8 tapi kembali lagi semua makhluk tahu penderitaan, mereka tahu tapi apa paham. Belum tentu paham disini kita tahu apa penderitaan, apa sebab penderitaan apa kondisi & jalan untuk lenyapkan penderitaan itu kita sudah tahu semua, bisa sangat suka cita oh ini kenapa bicarakan penderitaan itu akan terus terjadi Buddha kerancunan makanan, kaki terluka berdarah tapi apa itu penderitaan buat Buddha karma buruk berbuah, tapi tiada rasa menderita karma buruk berbuah tapi apakah berdampak tentu tidak.
Kalau kita belajar seperti ini, semua orang disini memiliki penderitaan masing masing memiliki karakteristik, ntah ada yang sedih ditinggal pasangan. Sedih ditinggal anak oh topik penderitaan dilamrim ini sangat banyak sekali, fenomena itu tetap muncul tetap berbuah poinnya bagaimana kita respon dari hasil buah karma itu, kita diberi pilihan mau meraung raung oh ini sudah berbuah, saya sudah alami pilihan ditangan kita semua mau merasa menderita sekali / ya udah, untungnya terjadi ini akan dibahas hari ini.
Untuk mengingat ingat penderitaan saat ini, mungkin ada usia 20-50 tahun sakit menderitanya minta ampun, coba diingat ingat. Kehilangan orang tua bangkrut bestie yang meninggal pindah kantor / apa, coba kita cari agak lucu dalam kelas ini teman kita sebelah agama tetangga ke tempat ibadahnya, melayani happy happy tapi disini kita coba ingat ingat apa hal yang menderita berkesan dikita, kita coba disuruh mengingat ingat kembali penderitaan yang dialami, kita bisa analisis ulang sebelum belajar dulu kita akan bicara ini tidak adil karma buruk apa yang dialami, mungkin menyalahkan pihak pihak eksternal.
Mungkin sekali kita menyalahkan, mari kita fokus hindari distraksi saya malah mau terdistraksi seperti anak kuliah, dosennya jam 7 pagi saya masih ngantuk. Sengaja cari distraksi tolong telepon aku, sebisa mungkin gunakan waktu kita untuk benar benar fokus kurangi distraksi ini penting, kalau tahu ini penderitaan tahu sebabnya diberitahu jalannya kondisinya enak sih, tapi jalannya susah sekali kalau tidak pelajari topik ini aduh susah ya udah nyerah saja tiada semangat, padahal ini memang perlu untuk dipahami kita tekadkan ini penting bangkitkan rasanya, saya perlu saya yang butuh saya yang wajib tergantung kebutuhan kalau butuh, ya wajib kalau tidak butuh itu akan sulit.
Dalam buku jilid 3 pembebasan tangan kita hal 257, menuju pencerahan kondisi tidak menguntungkan kalau kita bicarakan, mau mengubah penderitaan. Itu bukan penderitaanpun bisa menjadi hal hal, untuk tidak menguntungkan saja tapi kondisi menguntungkan juga bisa hilang instruksi ini, sangat baik dalam kondisi merosot ini kita harus mengubah kondisi kondisi yang tidak menguntungkan, bukan hanya hal hal yang buruk saja bukan tidak terikat pada anak keluarga, butuh biaya besar kerja lembur dll.
Tidak hanya itu, kondisi baik juga ada kemungkinan menjauhkan kita dari kondisi spiritual beberapa praktisi, kehilangan dhamma dengan kekayaan. Kehilangan dhamma karena dipuji mendapat rejeki, hingga sibuk mengurusi hal hal lain diluar dhamma sangat sangat mungkin terjadi, mulai terasa oh ternyata hal hal yang baik ini ternyata memberikan dampak yang kurang baik, dalam hal spiritual kita dulu mau cari pengalaman suhu mau kerja diluar karena pergaulan diJakarta, teman teman sukses tertarik ke arah sana untungnya tidak sampai ke sana, ternyata memang tidak ada kecendrungan untuk tidak ada ke arah sana jika kita bereaksi seperti ini, kita akan sulit merealisasi dhamma halangan pasti ada.
Mau kapan selesai praktik dhammanya, kesulitan itu pasti ada tidak bajik halangan halangan itu pasti ada, tinggal kita bagaimana melampauinya. Halangan halangan itu pasti ada kalau menyerah dengan itu, tidak akan selesai selesai akan sangat kecil apalagi merusak praktik kita harus mampu mengubah, karena kesulitan halangan halangan ini pasti muncul pasti semua ini penderitaan, tidak murni pasti ada semua itu tinggal bagaimana mengubah kesulitan kesulitan ini, menjadi unsur sang jalan mengubah kondisi yang tidak menguntungkan melalui sikap & cara pandang, walaupun dunia & penghuninya dipenuhi akibat perbuatan jahat, kondisi akibat penghabisan perbuatan buruk.
Mengubah kondisi keburukan, dengan merubah menjadi pakai sandal supaya tidak merasa sakit untuk melangkah, penuh penderitaan ketidakbajikan. Ya daripada kita mengubah itu semua, lebih baik kita rubah diri kita dulu pasti menyalahkan seseorang biasanya yang kita lakukan, memang benar kalau kecelakaan jatuh dari motor eh pakai mata tidak mencaci dll, hal yang wajar itu bawaan kita karena masih dipenuhi kilesha mau seperti itu aja kita tidak menyadari, karena yang membuat kita alami penderitaan itu kalau kita selidiki mencari kesalahan awal, pengalaman yang tidak baik itu dihasilkan karena karma kita sendiri apakah benar, tidak perlu dibahas karma tidak akan alami dengan yang kita lakukan karma yang telah dilakukan tidak hilang, hukum karmanya seperti itu.
Komentar
Posting Komentar