Q&A BY BHANTE DHIRASARANO

             Dari hal yang ditanyakan, tadi ada kita bisa temukan ada satu tuntunan yang bisa digunakan dalam sehari hari, seperti lihat hanya sekedar melihat. Jika kita kurang ketahui hanya melihat sekedar melihat, jika tidak diiringi tanpa menyadari sebagaimana adanya jika tiada 4 hal yang dijadikan pemikiran yang baik, nilai nilai luhur seperti Kusala Vipaka ketidakindahan kecacatan, ketidakkekalan tanpa aku ketika kita melihat sebagaimana adanya jika melihat objek, seorang laki laki lihat gadis cantik bukan hanya melihat sekedar melihat ada muncul pikiran seksual, ada juga pikiran lain ketika lihat sebuah objek kita bisa melihat orang tersebut, itu ada rambut kalau itu hanya masing masing apa semua indah melihat dengan kecacatan itu bisa melihat sebagaimana adanya.

            Apabila kita tidak sampai memunculkan pikiran baik, bisa timbul serakah seperti merasakan makanan hanya sekedar makanan, apa enak dilihat. Ketika dikunyah itu rasanya berbeda bisa memunculkan pikiran yang baik, bisa melihat dari berbagai sisi mendengarkan curhatan yang jelek terhadap orang lain, alangkah baiknya jika ada respon tidak baik bisa membawa diri kita terima respon yang kurang baik, tapi bisa kita simak dengan baik bisa menjaga emosi kita, ketika hendak berikan tanggapan / sanggahan bisa dengan pikiran tenang setidaknya ada saran yang baik, agar tidak terlalu jauh / terlalu dalam membuat hal kebencian tapi kita berusaha cipatakan kerukunan, keharmonisan sehingga bisa jadi menengahi kalau kita mendukung akan bisa timbul provokasi, kita lebih berusaha berikan tanggapan kerukunan & keharmonisan.

            Tentu sebagai orang yang menerima hal baik, khususnya kita sebagai seorang anak yang bisa buat baik pada orang tua, bisa kita ingat lagi. Berkenaan kewajiban anak terhadap orang tua dalam Sigalovada Sutta, merawat dengan baik itu bisa dilakukan dalam semasa hidup kewajiban anak, juga bisa limpahkan jasa buat orang tua yang sudah meninggal bagi yang masih hidup, kita berikan pada mereka baik kebutuhan pokok untuk membalas jasa ketika bisa selesai, dengan harta kekayaan jadi penguasa itu juga belum cukup untuk balas kebaikan mereka, kewajiban kita penuhilah kebutuhan mereka ada juga yang terbaik / lebih baik apabila tiada keyakinan bisa mengarahkan mereka.

            Jika ada kecenderungan pada hal hal yang buruk, jika tidak yakin hukum karma kita bisa arahkan pada hukum karma, jika tiada moral. Selalu pelit kikir jadi kita bisa ajak mereka bisa tumbuh hal hal dermawan, panna itu juga bisa materi / non materi moralitas orang bijaksana itu cara kita bisa selesai, kewajiban kita pada orang tua itu bisa mampu balas jasa bisa merujuk kembali, dalam Sigalovada Sutta menguatkan moralitas samadhi cagga & panna 5 hal yang dapat dihindari, berusaha menjalankan pancasila buddhist tentu kelima hal itu bisa terkondisi seseorang yang berkomitmen sebaik mungkin, ternyata tidak teguh.

            Berdasarkan syarat itu seseorang dapat dikatakan gagal, kalau pembunuhan adanya makhluk ada niat untuk menganiaya, membunuh makhluk itu. Adanya usaha untuk melakukan hal itu makhluk itu meninggal, ketika 4 kondisi itu terpenuhi komitmen yang muncul diawal, tidak pegang dengan teguh mencuri mengetahui ada barang niat mengambil lalu berusaha, mengambil juga berhasil mencuri kalau sila ketiga ada orang yang statusnya dijaga dilindungi, oleh adat / negara ada niat melakukan hubungan seksual ada usaha juga berhasil lalu ucapan, ada pihak yang dibohongi fitnah kata kasar ada niat lalu usaha yang berhasil membohongi fitnah dll.

            Sama sila kelima, tahu ada pelemahan kesadaran ada niat untuk meneguk minuman itu masuk dalam perut, lalu waspada yang melemah. Itu bisa jadi prasyarat bisa dikatakan gagal pada hal yang ada diatas tadi, apabila terpenuh bisa dikatakan melanggar berkenaan mengenai ucapan memecah belah, dari hasil yang diperoleh besar kecilnya akibat tergantung dari beberapa aspek objek yang ingin kita pecah belah, ada moral yang baik itu akan membawa hal hal tidak bajik, seperti seorang bhikkhu yang memecah belah bhikkhu senior menjaga moral, lalu sebagai pelaku gimana padahal 2 orang baik bisa dapat hal hal tidak bahagia bisa lahir, dialam rendah apabila orang yang suka memfitnah ada respon tidak suka bisa memicu terputusnya karena dengan pembiasaan diri.

            Dalam hal demikian, jadi tidak rukun ada orang terpecah belah, senang kita tidak senang hidup rukun, ada juga besar upaya yang dilakukan. Seperti Cinca bukan saat itu juga sudah dalam waktu beberapa bulan, juga akhirnya ada saat terakhir berupaya untuk ada hasil seorang hamil kok keluar dari vihara, sudah dilakukan berkali kali ada usaha cukup besar juga peroleh hal yang tidak baik, juga bergantung pada besar / kecilnya kilehsa dalam berupaya itu sendiri, jika ada kebencian bisa memicu hal yang tidak baik melihat objeknya bisa melihat sejauh mana yang dilakukan, apa berupa keserakahan kebencian tentu kita harus berusaha menghindari hal hal tidak baik, jangan sampai fitnah ada hal yang tidak dibicarakan.

            Ada saat ini . masa lampau, hanya satu ucapan itu harus diganti dalam satu kehidupan kita harus jaga ucapan baik, keluarga / masyarakat itu bisa jaga. Juga dari hal tadi seperti jaga badan jasmani, jika kita hubungkan hal hal positif itu bisa menolong orang orang lain kalau dari sudut pandang pribadi, saya sembahyang leluhur jika dilakukan baik secara tradisi juga umum dapat bawa manfaat, sebagai seseorang anak yang berpisah karena kematian itu memberikan hal hal yang baik, bisa buat bakti kita pada leluhur sembahyang chit gwee itu hal bajik dengan lakukan hal itu, bisa ingatkan kembali diri kita pada leluhur itu hal baik yang bisa dilakukan, bukan hanya sembahyang bukan hanya pengungkapan saja / pengharapan.

            Kita bisa praktik dana moralitas, kembangkan batin kita untuk hal hal bajik karena dengan hal bajik yang kita lakukan, bisa didedikasikan. Pada sembahyang chitgwee bukan hanya penghormatan kita bisa lakukan hal yang baik, juga dedikasikan tentu kita sudah pelajari bersama mengenai ucapan yang memecah belah, baik hubungan antar sahabat suami istri juga siapapun, selama kita melihat ada pemahaman dhamma juga mengarahkan pada hal hal yang bajik bisa bermanfaat, jika buat hal hal tidak bajik bisa membawa hal hal tiada bermanfaat karena ada persaingan, ada hal hal nama baik tercoreng bisa juga pada kita hal tidak bahagia baik saat ini / hidup mendatang, kita juga jaga ucapan terus praktikan ajaran semoga mudah dipahami semoga semua makhluk berbahagia.

Komentar